Jika pada tanggal 1 Mei Kemarin, semua daerah di seluruh pelosok Indonesia memperingati Hari buruh Nasional (May Day), hal berbeda dengan warga Papua. Ya, 1 Mei adalah tanggal sakral dimana pada tahun 1963 Papua kembali ke Pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesaia (NKRI).
Keinginan warga Papua untuk berpisah dari NKRI bukan berita baru, semenjak dahulu Papua dikenal sebagai pulau paling kaya di jagat dunia, tapi sejarah orang-orang Papua begitu suram dan kelam, sampai-sampai penyanyi Edo Kondolangit menyanyikan nestapa kaum Papua dengan lirik lagunya yang terkenal “Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami punya. Kami hanya menjual buah-buah pinang.”
Tepat setelah Presiden Jokowi meresmikan Pembangunan Pasar Mama-Mama di Distrik Gurabesi, Kecamatan Jayapura Utara, Papua, esoknya para pemuda Papua membentangkan Bendera merahputih raksasa menyatakan diri bahwa mereka akan sepenuhnya setia pada NKRI dan menolak segala aktivitas yang berhubungan dengan kampanye hitam ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) atau Organisasi Papua Barat Merdeka terhadap NKRI.
Masyarakat menyambut antusias aksi Pembentangan Merah Putih dengan ukuran raksasa yang dipimpin Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Keerom, Piter Gusbager. Salah seorang warga, James Kembu yang merupakan anak mantan Panglima OPM Wilayah Keerom mengatakan, pemuda Papua harus bangkit dan menjadi salah satu pilar pembangunan Papua
“Mari kita pemuda Papua menjadi motor penggerak pembangunan Papua,” ujarnya di Skofro, Papua, Senin 1 Mei 2016.
Ia berharap pemuda Papua jangan hanya terjebak dalam pemikiran politik semata namun lupa membangun daerah sehingga Papua terus terbelenggu dalam ketertinggalan.


No comments:
Post a Comment